Tuesday, August 18, 2015

Siapa yang mewahyukan Al Quran?



32. Siapakah yg mewahyukan Alquran? Sosok Allah Muslim (Qs.53:2-18) .
Hal ini bertentangan dengan:
Yg mewahyukan Alquran adalah RuhulQudus/Roh Kudus (Qs.16:102, 26:192-194).
Yg mewahyukan Alquran adalah para malaikat/banyak malaikat (jamak dalam bahasa Arabnya) (Qs.15:8).
Yg mewahyukan Alquran adalah Jibril (Qs.2:97).
Awas! Harap lihat Alquran dalam bahasa aslinya, dan tidak dikaburkan/ dicampur adukkan oleh istilah/sisipan dari “penterjemah” yg menyamaratakan/ menggantikan “Ruhul Qudus” “Jibril” dan “Malaikat”.
Sampai disini sudah ada 5 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 161 pertentangan.


Sosok Allah Muslim dalam QS 53:2-18 (Al Quran surat An Najm [bintang] ayat 2-18)
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ [٥٣:٢]وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ [٥٣:٣]إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ [٥٣:٤]عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلْقُوَىٰ [٥٣:٥]ذُو مِرَّةٍۢ فَٱسْتَوَىٰ [٥٣:٦]وَهُوَ بِٱلْأُفُقِ ٱلْأَعْلَىٰ [٥٣:٧]ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ [٥٣:٨]فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ [٥٣:٩]فَأَوْحَىٰٓ إِلَىٰ عَبْدِهِۦ مَآ أَوْحَىٰ [٥٣:١٠]مَا كَذَبَ ٱلْفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ [٥٣:١١]أَفَتُمَـٰرُونَهُۥ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ [٥٣:١٢]وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ [٥٣:١٣]عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ [٥٣:١٤]عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ [٥٣:١٥]إِذْ يَغْشَى ٱلسِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ [٥٣:١٦]مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ [٥٣:١٧]لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَـٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ [٥٣:١٨]
Terjemahan bebas: Ayat 2: Tidaklah tersesat sahabat kalian (Muhammad) dan tidaklah dia melantur. Ayat 3: Dan dia tidak akan bicara dari hawa nafsunya. Ayat 4: Dia (apa yang diucapkan) adalah wahyu yang diwahyukan Ayat 5: Yang sangat kuat telah mengajarkan kepadanya. Ayat 6: Yang memiliki kebijaksanaan kemudian dia menampakkan jati dirinya. Ayat 7: Dan dia berada di horison tertinggi. Ayat 8: Kemudian dia mendekat lalu dia menurunkan dirinya. Ayat 9: Kemudian sampai dia berjarak dua busur atau lebih dekat. Ayat 10: Kemudian dia mewahyukan kepada hambaNya apa-apa yang diwahyukan. Ayat 11: Tidaklah berbohong nalar apa yang telah dia (Muhammad) lihat. Ayat 12: Maka akankah kalian mendebatnya apa yang dia lihat? Ayat 13: Dan sesungguhnya telah dia (Muhammad) melihat dia pada kesempatan turunnya yang lain. Ayat 14: Di sisi pohon rindang batas terjauh. Ayat 15: Di sisi dia (pohon itu) berada taman yang dijanjikan. Ayat 16: Ketika dia menaungi pohon itu apa-apa yang menaungi. Ayat 17: Tidaklah penglihatan dia (Muhammad) mengecoh dan tidak berlebihan. Ayat 18: Sesungguhnya telah dia lihat bagian tanda-tanda Rabbnya yang agung.

Yg mewahyukan Alquran adalah RuhulQudus/Roh Kudus dalam QS 16:102 (Al Quran surat An Nahl [lebah] ayat 102)
قُلْ نَزَّلَهُۥ رُوحُ ٱلْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِٱلْحَقِّ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهُدًۭى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ [١٦:١٠٢]
Terjemahan bebas: Katakanlah: “Rûh Al Qudus telah menurunkan dia (Al Quran) secara berangsur-angsur dari Rabb kamu dengan kebenaran agar meneguhkan mereka yang beriman dan memberi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).”

Yg mewahyukan Alquran adalah RuhulQudus/Roh Kudus dalam  QS 26:192-194 (Al Quran surat As Syu’arâ’ [penyair-penyair] ayat 192-194)
وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ [٢٦:١٩٢]نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلْأَمِينُ [٢٦:١٩٣]عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُنذِرِينَ [٢٦:١٩٤]
Terjemahan bebas: Ayat 192: Dan sesungguhnya dia (Al Quran) adalah yang diturunkan secara berangsur-angsur dari Rabb alam semesta. Ayat 193: Rûh Al Amîn adalah yang menurunkan dia (Al Quran). Ayat 194: Atas hati kamu (Muhammad) agar menjadikan kamu orang  yang memberi peringatan.

Yg mewahyukan Alquran adalah para malaikat/banyak malaikat (jamak dalam bahasa Arabnya) dalam QS 15:8 (Al Quran surat Al Hijr [tanah berbatu] ayat 8)
مَا نُنَزِّلُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةَ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَمَا كَانُوٓا۟ إِذًۭا مُّنظَرِينَ [١٥:٨]
Terjemahan bebas: Tidaklah Kami turunkan malaikat berbondong-bondong kecuali dengan kebenaran, dan kalaupun itu terjadi, tidaklah mereka (musyrikin Mekah) menjadi orang-orang yang ditangguhkan.

Yg mewahyukan Alquran adalah Jibril dalam QS 2:97 (Al Quran surat Al Baqarah [sapi betina] ayat 97)
قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّۭا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ مُصَدِّقًۭا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًۭى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ [٢:٩٧]
Terjemahan bebas: Katakanlah: “Barangsiapa menjadikan Jibril sebagai musuh, maka sesungguhnya dia (Jibril) menurunkan dia (Al Quran) secara berangsur-angsur atas hati kamu dengan ijin Allah, yang membenarkan apa-apa yang ada di antara kedua tangan dia (orang yang memusuhi Jibril), dan sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.

ULASAN

Pada QS 53:2-18 Al Quran menginformasikan bagaimana Muhammad SAW berinteraksi dengan apa yang dilihatnya, yaitu Jibril (as). Lihat penjelasan selengkapnya pada tulisan sebelumnya: Bisakah AllahMuslim dilihat oleh manusia. Berarti bukan Allah langsung yang mewahyukan Al Quran melainkan melalui perantaraan utusan, yaitu Jibril (as).

Pada QS 15:8 Al Quran menginformasikan bahwa jika Allah menghendaki, malaikat dapat saja diturunkan berbondong-bondong sehingga orang-orang musyrikin Mekah hancur seketika. Ayat ini bagian dari episode orang-orang musyrikin Mekah yang mengolok-olok Muhammad SAW. Kalau dia benar seorang nabi, silahkan kirim malaikat yang akan menghukum mereka. Allah menurunkan mukjizat atau siksaan bukan berdasarkan permintaan manusia. Ayat ini tidak berkenaan dengan bagaimana Al Quran diwahyukan. Berarti bukan malaikat (bentuk jamak) yang mewahyukannya.

Pada QS 16:102 Al Quran menginformasikan bahwa Rûh Al Qudus (yang murni, suci tanpa cela) yang menurunkan Al Quran secara berangsur-angsur kepada Muhammad SAW. Pada QS 26:192-194 menginformasikan bahwa Rûh Al Amîn (yang terpercaya) yang menurunkan Al Quran secara berangsur-angsur kepada Muhammad SAW. Pada QS 2:97 Al Quran menginformasikan bahwa Jibril yang menurunkan Al Quran secara berangsur-angsur kepada Muhammad SAW. Selanjutnya perhatikan QS 42:51-52 (Al Quran surat As Syura [perundingan] ayat 51-52)
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَآئِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًۭا فَيُوحِىَ بِإِذْنِهِۦ مَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ عَلِىٌّ حَكِيمٌۭ [٤٢:٥١]وَكَذَ‌ٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًۭا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَـٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَـٰهُ نُورًۭا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَ‌ٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ [٤٢:٥٢]
 Terjemahan bebas: Ayat 51: Dan tidaklah dapat bagi manusia agar Allah berbicara langsung  kepadanya, selain melalui inspirasi, atau dari balik tirai, atau mengirim seorang utusan yang kemudian mewahyukan dengan ijinNya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia tinggi penuh hikmah. Ayat 52: Dan begitulah Kami mewahyukan kepada kamu melalui Rûh atas perintah Kami. Tidaklah kamu mengerti apa itu Al Kitab dan apa itu Iman, akan tetapi kami jadikan dia (Al Quran) sebagai cahaya yang dengannya Kami beri petunjuk siapa yang kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu akan memberi petunjuk tentang jalan yang lurus.

Hal ini mengindikasikan bahwa manusia tidak dapat menerima kata-kata langsung dari Allah. Bagi manusia biasa adalah melalui ide yang tercetus dalam pikirannya. Yang pernah menerima kata-kata dari balik tirai salah satunya adalah Musa (as) sehingga julukannya adalah Kalamullah (perkataan Allah). Sedangkan Muhammad SAW menerima kata-kata dari Allah adalah dengan cara yang ketiga yaitu melalui seorang utusan. Siapa utusan itu? Nama-nama yang dikaitkan dengan penyampaian Al Quran adalah: Rûh Al Qudus, Rûh Al Amîn, Jibril dan Rûh saja. Karena hanya ada satu utusan, berarti nama-nama itu adalah untuk satu utusan tersebut. Dalam Al Quran kata Jibril hanya disebut 3 kali saja. Sedangkan Rûh sebagai nama lain dari Jibril (as) disebut lebih dari 10 kali.

Mohon perhatian kepada pembaca agar jangan keliru membedakan antara Rûh Al Qudus dengan Roh Kudus (Holy Spirit atau Holy Ghost) yang disebut-sebut dalam Gospel atau tulisan-tulisan Perjanjian Baru. Keduanya adalah hal yang berbeda. Yang pertama adalah nama lain dari Jibril sedangkan yang kedua adalah suatu konsep yang asing bagi judaisme dan islam, yaitu sosok yang menjelma sebagai merpati sebagai mana dideskripsikan dalam Matius 3:16 dll.

Wednesday, August 5, 2015

Apa hukuman bagi perbuatan "keji"?



36. Apakah hukum bagi orang yg melakukan perbuatan keji? Didera (dipecut) sebanyak 100 kali, baik pria maupun wanita ( Qs.24:2).
Hal ini bertentangan dengan:
Orang yg berzinah, khususnya pria hukumannya adalah jika bertobat dan memperbaiki diri, maka akan diampuni (Qs.4:16).
Orang yg berzinah, khususnya wanita, hukumannya adalah dikurung didalam rumah sampai mati atau sampai Allah Muslim memberi jalan lain ( Qs.4:15).
Pertanyaan: Mengapa penghukuman untuk pria dan wanita adalah sama dalam Qs.24, tetapi berbeda di Qs.4? Jadi disini ada 2 pertentangan ayat. Total sudah ada 168 pertentangan.



Didera (dipecut) sebanyak 100 kali, baik pria maupun wanita dalam QS 24:2 (Al Quran surat An Nûr [cahaya] ayat 2)
ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِى فَٱجْلِدُوا۟ كُلَّ وَ‌ٰحِدٍۢ مِّنْهُمَا مِا۟ئَةَ جَلْدَةٍۢ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌۭ فِى دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌۭ مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ [٢٤:٢]
Terjemahan bebas: Pezinah, baik perempuan maupun laki-laki, kalian cambuklah masing-masing dari keduanya seratus cambukan. Dan janganlah belas kasihan kalian terhadap mereka berdua dalam (menjalankan) agama Allah, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan agar menyaksikan hukuman bagi keduanya sekelompok dari orang-orang beriman.

Orang yg berzinah, khususnya wanita, hukumannya adalah dikurung didalam rumah sampai mati atau sampai Allah Muslim memberi jalan lain dalam QS 4:15 (Al Quran surat An Nisâ’ [wanita-wanita] ayat 15)
وَٱلَّـٰتِى يَأْتِينَ ٱلْفَـٰحِشَةَ مِن نِّسَآئِكُمْ فَٱسْتَشْهِدُوا۟ عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةًۭ مِّنكُمْ ۖ فَإِن شَهِدُوا۟ فَأَمْسِكُوهُنَّ فِى ٱلْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّىٰهُنَّ ٱلْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ ٱللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًۭا [٤:١٥]
Terjemahan bebas: Dan yaitu mereka (wanita-wanita) yang mendatangkan perbuatan tidak bermoral dari wanita-wanita kalian, maka berilah kesaksian atas mereka empat dari kalian. Kemudian jika mereka bersaksi, maka kalian tahan mereka (wanita-wanita) dalam rumah-rumah sampai maut mengakhiri mereka atau Allah menjadikan bagi mereka suatu jalan lain.

Orang yg berzinah, khususnya pria hukumannya adalah jika bertobat dan memperbaiki diri, maka akan diampuni dalam QS 4:16 (Al Quran surat An Nisâ’ [wanita-wanita] ayat 16)
وَٱلَّذَانِ يَأْتِيَـٰنِهَا مِنكُمْ فَـَٔاذُوهُمَا ۖ فَإِن تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا۟ عَنْهُمَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ تَوَّابًۭا رَّحِيمًا [٤:١٦]
Terjemahan bebas: Dan yaitu mereka berdua yang mendatangkan dia (perbuatan tidak bermoral) dari kalian, maka siksalah keduanya. Kemudian jika mereka berdua bertobat dan memperbaiki, maka kalian biarkanlah keduanya. Sesungguhnya Allah penerima tobat penyayang.

ULASAN

Penghukuman ini pada ketiga ayat ini banyak menimbulkan penafsiran. Perhatikan kata-kata yang digunakan “fahisyah” (فـحشة) dan “zaniy” (زانى). Kata pertama adalah perbuatan umum yang dapat diartikan sebagai perbuatan tidak patut, perbuatan dosa besar, perbuatan tidak bermoral, perbuatan tidak sopan, perbuatan mengumbar hawa nafsu, perbuatan yang di luar kewajaran yang mencakup perzinahan, perselingkuhan, aborsi, sodomi, hubungan seksual tidak wajar dll. Dengan demikian, pengertian kata ini sangat luas sehingga berbagai penafsiran akan timbul. Sedangkan kata kedua adalah perbuatan spesifik yang dapat diartikan sebagai hubungan seksual sukarela antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada ikatan pernikahan di antara keduanya. Dengan demikian kata kedua merupakan bagian dari kata pertama.

Pada QS 24:2 Al Quran memberikan informasi tentang penghukuman yang jelas atas suatu perbuatan yang spesifik. Pada QS 4:15 Al Quran menginformasikan adanya perbuatan tidak bermoral yang dilakukan oleh perempuan-perempuan. Agar jelas apakah perbuatan tersebut tidak bermoral, maka harus dihadirkan 4 saksi yang semuanya melihat sesuatu dengan deskripsi yang sama. Jika ada deskripsi yang saling bertentangan, maka kesaksian itu batal. Jika sudah diputuskan bahwa perbuatan itu tidak bermoral (di luar zinah), maka perempuan yang bersangkutan dikurung di rumah seumur hidup atau dibebaskan dengan persyaratan tertentu. Pada QS 4:16 Al Quran menginformasikan adanya perbuatan tidak bermoral yang dilakukan oleh dua orang (bisa perempuan dan laki-laki, bisa keduanya perempuan dan bisa keduanya laki-laki). Pembuktiannya sama dengan pembuktian pada ayat sebelumnya. Jika keduanya diputuskan melakukan perbuatan tidak bermoral, maka hukumlah keduanya selama mereka tidak bertobat dan memperbaiki diri atas perbuatan tersebut. Jika zinah, hukum keduanya berdasarkan QS 24:2. Jika keduanya perempuan, maka hukum keduanya berdasarkan QS 4:15. Selain daripada itu, hukum sesuai kebijaksanaan masing-masing.

Perhatikan, secara keseluruhan, jika pelakunya bertobat dan memperbaiki diri, maka bebaskan mereka.

Sunday, August 2, 2015

Dosa syirik diampuni?



31. Apakah Allah Muslim mengampuni dosa syirik?Dosa syirik dianggap dosa yg paling buruk dari segala dosa, tetapi penulis Quran tidak dapat memutuskan apakah Allah Muslim akan mengampuni dosa syirik atau tidak ( Qs.4:48, 4:116).
Hal ini bertentangan dengan:
Dosa syirik adalah dapat diampuni (Qs.4:153).
Dosa syirik adalah dapat diampuni (Qs.25:68-71) .
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 156 pertentangan.


Penulis Quran tidak dapat memutuskan apakah Allah Muslim akan mengampuni dosa syirik atau tidak dalam QS 4:48 (Al Quran surat An Nisâ’ [wanita-wanita] ayat 48)
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَ‌ٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا [٤:٤٨]
Terjemahan bebas: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni yang mempersekutukan Dia. Dan Dia akan mengampuni apa-apa selain itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka dia telah mempermain-mainkan dosa yang besar.

Penulis Quran tidak dapat memutuskan apakah Allah Muslim akan mengampuni dosa syirik atau tidak dalam QS 4:116 (Al Quran surat An Nisâ’ [wanita-wanita] ayat 116)
ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَ‌ٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَـٰلًۢا بَعِيدًا [٤:١١٦]
Terjemahan bebas: Allah tidak akan mengampuni yang mempersekutukan Dia. Dan Dia akan mengampuni apa-apa selain itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka dia telah tersesat yang sejauh-jauhnya.

Dosa syirik adalah dapat diampuni dalam QS.4:153 (Al Quran surat An Nisâ’ [wanita-wanita] ayat 153)


يَسْـَٔلُكَ أَهْلُ ٱلْكِتَـٰبِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَـٰبًۭا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ۚ فَقَدْ سَأَلُوا۟ مُوسَىٰٓ أَكْبَرَ مِن ذَ‌ٰلِكَ فَقَالُوٓا۟ أَرِنَا ٱللَّهَ جَهْرَةًۭ فَأَخَذَتْهُمُ ٱلصَّـٰعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ۚ ثُمَّ ٱتَّخَذُوا۟ ٱلْعِجْلَ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ فَعَفَوْنَا عَن ذَ‌ٰلِكَ ۚ وَءَاتَيْنَا مُوسَىٰ سُلْطَـٰنًۭا مُّبِينًۭا [٤:١٥٣]
Terjemahan bebas: Orang-orang Yahudi dan Kristen meminta padamu agar diturunkan atas mereka kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta pada Musa yang lebih besar dari itu. Kemudian mereka berkata: “Tampakkan Allah pada kami dengan jelas.” Maka menyambarlah petir atas mereka dalam kedegilan mereka. Kemudian mereka mengambil anak sapi sesudah keterangan yang jelas datang pada mereka. Maka Kami biarkan hal itu (untuk sementara) dan kami berikan Musa wewenang yang nyata (untuk menanganinya).

Dosa syirik adalah dapat diampuni dalam QS 25:68-71 (Al Quran surat Al Furqân [pembeda] ayat 68-71)
وَٱلَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَ‌ٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًۭا [٢٥:٦٨]يُضَـٰعَفْ لَهُ ٱلْعَذَابُ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِۦ مُهَانًا [٢٥:٦٩]إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍۢ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا [٢٥:٧٠]وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابًۭا [٢٥:٧١]
Terjemahan bebas: Ayat 68: Dan mereka yang tidak memohon kepada suatu ilâh yang lain di samping Allah, dan tidak membunuh jiwa yang Allah larang, kecuali dengan kebenaran, dan tidak berzinah. Dan (sebaliknya) barangsiapa melakukan hal itu, maka dia melakukan dosa-dosa besar. Ayat 69: Siksaan akan digandakan bagi dia pada hari kiamat dan dia kekal di dalamnya dihinakan. Ayat 70: Kecuali barangsiapa yang bertobat dan beriman dan melakukan perbuatan baik, maka mereka itu digantikan keburukan-keburukan mereka oleh Allah dengan kebaikan-kebaikan. Dan Allah itu pengampun penyayang. Ayat 71: Barangsiapa telah bertobat dan telah melakukan perbuatan baik, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan sebenar-benarnya.

ULASAN

Dalam ayat-ayat ini tidak ada kebingungan atau pertentangan satu sama lain, masalahnya di sini mungkin dalam membedakan pengertian kata “ghafara” (غفر) dan “afâ” (عفا). Kedua kata ini jika dihubungkan dengan agama atau hukum, maka keduanya mempunyai arti yang sama yaitu mengampuni. Pengertian kata pertama adalah menutup, melindungi, membungkus, atau meliput. Jika dihubungkan dengan agama atau hukum, pengertiannya menjadi menutup dari konsekuensi suatu perbuatan. Dengan kata lain, mengampuni perbuatan tersebut sehingga bebas dari konsekuensi selamanya.  Pengertian kata kedua adalah membiarkan lewat, memberikan lebih dari semestinya, atau membebaskan dari kewajiban atau hak yang sifatnya temporer. Jika dihubungkan dengan agama atau hukum, pengertiannya menjadi membiarkan lewat konsekuensi pada saat itu. Dengan kata lain, menangguhkan hukuman atas perbuatan tersebut sehingga bebas dari konsekuensi pada saat itu yang mungkin pada suatu saat konsekuensi itu ada datang lagi.

Pada QS 4:48 dan QS 4:116 Al Quran menginformasikan bahwa mempersekutukan Allah tidak akan diampuni. Dosa selain itu akan diampuni Allah bagi siapa yang Dia kehendaki. Maksudnya adalah sampai kapanpun dosa syirik tidak akan diampuni, sedangkan dosa yang lain masih mungkin diampuni. Misalkan, seseorang yang tidak melakukan dosa syirik tetapi melakukan pembunuhan yang dilarang oleh Allah, maka dia tetap menanggung dosa besar. Jika di dunia dia bertobat dan dihukum pancung atau dimaafkan oleh keluarga yang dia bunuh, maka Allah mengampuni dosa atas pembunuhan tersebut. Sebaliknya, jika dia di dunia tidak pernah bertobat atau lolos dari hukum pancung tetapi tidak dimaafkan oleh keluarga yang dia bunuh, maka Allah tidak akan mengampuni dosa atas pembunuhan tersebut, walaupun dia berbuat baik sebanyak apapun. Pilihan-pilihannya jelas, tidak sukar untuk membedakannya. Pada kedua ayat ini digunakan kata ghafara (غفر).
Mengapa digunakan kata “afâ” (عفا) Pada 4:153, bukan kata “ghafara” (غفر)? Allah untuk sementara waktu membiarkan perbuatan mereka menyembah anak sapi dan tidak menghukum mereka pada saat itu juga karena Musa (as) tidak bersama-sama mereka. Musa sedang berada di gunung Sinai selama 40 hari untuk menerima Torah. Setelah itu, Musa (as) mendapat otoritas penuh untuk menghukum kaumnya. Lihat kelanjutan episode ini di QS 2:54 (Al Quran surat Al Baqarah [sapi betina] ayat 54):
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَـٰقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلْعِجْلَ فَتُوبُوٓا۟ إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَٱقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ذَ‌ٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ [٢:٥٤]
Terjemahan bebas: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata: “Wahai kaumku, sesungguhnya kalian menganiaya diri kalian sendiri dengan mengambil anak sapi sebagai sembahan kalian. Maka, bertobatlah kepada Pembuat kalian dan bunuhlah diri kalian sendiri, hal itu lebih baik bagi kalian di sisi Pembuat kalian. Kemudian tobat mereka diterima. Sesungguhnya Dia maha menerima tobat yang penuh kasih sayang.
Perhatikan, di sini Allah disebut sebagai “bâri’” (بارء), pembuat. Agar Pembuat mereka mau mengampuni dosa tersebut, maka cara yang terbaik adalah bertobat dan membunuh diri sendiri (baik secara harfiah maupun kiasan). Bertobat dan membunuh diri sendiri adalah perbuatan setimpal untuk menebus dosa paling besar sehingga tidak ada lagi dosa yang ditanggung pada hari pengadilan nanti. Allah menciptakan manusia hidup di dunia adalah untuk menghamba kepadaNya bukan untuk mempersekutukanNya. Daripada membuat sesuatu yang akan mempersekutukan Dia, lebih baik tidak membuatnya sama sekali. Dengan demikian, berdasarkan informasi dari mulut Musa (as), daripada hidup di dunia dengan label mempersekutukan Allah, lebih baik hilangkan label itu dengan bertobat dan bunuh diri. Dalam arti kiasan, macam-macam penafsirannya, bisa jadi meninggalkan praktek-praktek buruk tersebut. Apakah anjuran ini dilaksanakan oleh anak-anak Israel atau tidak, Al Quran tidak menginformasikannya dan itu tidak penting. Bandingkan dengan Kitab Keluaran XXXII, 26-28.

Pada QS 25:68-71 Al Quran menginformasikan bahwa mempersekutukan Allah, membunuh jiwa yang dilarang oleh Allah dan berbuat zinah adalah dosa-dosa besar. Jika semua itu dilakukan, maka siksaan bagi pelakunya akan dilipatgandakan selamanya, baik di dunia maupun di akhirat. Selama ajal belum menjemput, jika pelakunya bertobat, beriman dan berbuat baik maka keburukan-keburukan akibat semua dosa-dosa tersebut akan dihapus seluruhnya dan diganti dengan kebaikan-kebaikan. Sederhana bukan? Dosa seberat apapun pasti diampuni. Sayangnya tidak semua orang mau melakukan hal ini karena banyak sekali godaannya terutama dari dalam pribadi orang yang belum mau mencari kebenaran sejati oleh karena kesombongan dan kemalasan. Akan tetapi, jika orang itu mau menerima kebenaran sejati dan berusaha berbuat baik dengan sungguh-sungguh, maka kesuksesan segera terlihat di depan mata pada jalan yang lurus.