Monday, July 20, 2015

Allah memerlukan pertolongan?



25. Allah Muslim itu MahaKuasa (Qs.2:20), bertentangan dengan: Allah Muslim itu juga ditolong manusia (Qs.47:7).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 115 pertentangan.
 

Allah Muslim itu MahaKuasa dalam QS 2:20 (Surat Al Baqarah [sapi betina] ayat 20)
يَكَادُ ٱلْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَـٰرَهُمْ ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوْا۟ فِيهِ وَإِذَآ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا۟ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَـٰرِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ [٢:٢٠]
Terjemahan bebas: Bilamana petir menyambar, dia membutakan pandangan mereka. Selama dia memberi terang bagi mereka, mereka berjalan di dalamnya. Dan ketika memberi gelap atas mereka, mereka berdiri saja. Seandainya Allah menghendaki, akan Dia ambil pendengaran mereka dan pandangan mereka. Sesungguhnya Allah atas segala hal menetapkan ukuran masing-masing.

Allah Muslim itu juga ditolong manusia dalam QS 47:7 (Al Quran surat Muhammad ayat 7)
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [٤٧:٧]
Terjemahan bebas: Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, maka Dia akan menolong kalian dan memperkokoh kedudukan kalian.

ULASAN:

Pada QS 2:20 Al Quran menginformasikan tentang salah satu sifat orang-orang yang bermuka dua (munafik). Ketika cahaya petir begitu terang, penglihatan mereka hilang dan membuat kelu lidah mereka. Mereka baru berjalan ketika ada terang dan berhenti lagi ketika gelap. Secara kiasan, ketika kebenaran mutlak di hadapan mereka, mereka tidak mampu berbuat apa-apa, diam membisu karena tercengang. Mereka mengganggu Islam lagi, jika menemukan hal-hal yang mereka anggap dapat menghancurkan Islam. Dan mereka diam saja, jika tidak menemukan apa-apa. Seandainya (law, لو) Allah menghendaki, maka dapat saja pendengaran dan pandangan mereka dicabut. Law adalah pengandaian yang tidak akan terjadi. Artinya, Allah sangat penyayang kepada makhlukNya dengan memberikan mereka kesempatan sehingga dengan tidak mencabut  persepsi dan nalar mereka, mereka dapat merenungkan kebenaranNya.

Allah maha kuasa (qadîr, قدير). Kata ini berasal dari akar kata qadara (قدر) yang berarti mampu berbuat, mempunyai kuasa atas, mengukur sesuai proporsi, menetapkan, mengatur, menugaskan dll.  Sesungguhnya atas segala sesuatu hal Allah sudah menentukan kapasitas masing-masing. Mudah-mudahan dengan kapasitas yang diberikan itu mereka dapat mempergunakannya dengan baik sehingga dapat menempuh jalan yang lurus kembali kepadaNya.

Allah memiliki segalanya. Allah tidak memerlukan pertolongan makhluk, sebaliknya makhluk yang memerlukan pertolongan Allah. Semua yang Allah perintahkan, wajibkan, mintakan dan anjurkan untuk dikerjakan oleh manusia adalah untuk kebaikan manusia sendiri. Jika suatu program di jalan Allah sudah ditetapkan oleh otoritas muslim, maka berpartisipasi dalam program tersebut disebut sebagai menolong Allah, baik sosial, ekonomi, politik, perang dsb.  Perhatikan surat QS 29:6 (Al Quran surat Al Ankabut [laba-laba] ayat 6)
وَمَن جَـٰهَدَ فَإِنَّمَا يُجَـٰهِدُ لِنَفْسِهِۦٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ [٢٩:٦]
Terjemahan bebas: Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka dia hanyalah bersungguh-sungguh untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak memerlukan apapun dari alam semesta.

Pada QS 47:7 Al Quran menginformasikan pengandaian kepada orang-orang yang beriman bahwa jika mereka berpartisipasi dalam program di jalan Allah yang sudah dicanangkan oleh otoritas muslim bagi kebaikan ummat, maka Allah akan mengembalikan hasilnya dengan menjadikan orang-orang yang beriman tersebut kokoh kedudukannya. Frasa “menolong Allah” hanya ada dalam ayat ini saja dan bukan kalimat perintah.

Ayat ini menceritakan episode perang Badar ketika 300 muslimin melawan 1000 musyrikin Mekah. Ketika perang dicanangkan yang berpartisipasi sedikit sekali, mungkin sekitar puluhan orang. Jumlah 300 baru terbentuk dengan persenjataan yang minim setelah berhadap-hadapan dengan lawan. Mari lihat kelanjutan ayat ini, QS 47:8-9.
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَتَعْسًۭا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَـٰلَهُمْ [٤٧:٨] ذَ‌ٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَـٰلَهُمْ [٤٧:٩]
Terjemahan bebas: Ayat 8: dan mereka yang menutup (kebenaran), maka kerusakan bagi mereka dan Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka. Ayat 9: Itulah (akibatnya), karena mereka membenci apa-apa yang Allah turunkan, maka Allah menjadikan perbuatan-perbuatan mereka sia-sia.

Selanjutnya terbukti bahwa jumlah yang sedikit dapat mengalahkan jumlah yang banyak. Bukan karena kualitas mereka yang lebih baik, melainkan kekuatan iman mereka yang menyebabkan datangnya pertolongan Allah sehingga kedudukan mereka menjadi kokoh. Di lain pihak, musyrikin Mekah dengan jumlah besar dengan persenjataan lebih baik akhirnya tanpa mereka duga banyak kerusakan terjadi dalam barisan mereka yang membuat mereka panik bertempur tanpa hasil. Bagi orang-orang beriman, hal ini adalah pelajaran agar tidak usah takut berhadapan dengan jumlah besar dan kemampuan canggih orang-orang yang membenci wahyu Allah. Walaupun nanti resikonya adalah mati atau hancur, mereka percaya dengan janji Allah bahwa mati di jalan Allah jaminannya adalah surga.

Untuk masa sekarang yang dapat dijadikan pelajaran adalah perlawanan rakyat Palestina di jalur Gaza. Kelihatannya saja Israel tetap kuat. Padahal sesungguhnya mereka sedang mengalami kemerosotan. Perang lalu, jika mereka teruskan, maka mereka dengan sekejap akan bangkrut. Coba saja hitung ongkos yang harus mereka tanggung setiap kali menurunkan pasukan di medan pertempuran. Belum lagi, kerusakan moral yang terjadi dengan tentara mereka, banyak yang bunuh diri. Sedangkan yang menjadi lawan mereka hanyalah anak-anak kecil yang hafal Al Quran.

Sunday, July 19, 2015

Allah menyesatkan manusia?



24. Allah Muslim adalah Jalan yg Lurus (Qs.19:36).
Bertentangan dengan:
Allah Muslim juga berwenang untuk menyesatkan manusia/siapa saja yg dikehendakiNya untuk disesatkan (Qs.4:88).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 114 pertentangan.


Allah adalah jalan yang lurus dalam QS 19:36 (Al Quran surat Maryam [Maria] ayat 36)
وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۚ هَـٰذَا صِرَ‌ٰطٌۭ مُّسْتَقِيمٌۭ [١٩:٣٦]
Terjemahan bebas: (Yesus berkata) Dan Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian. Maka menghambalah kepadaNya. Inilah jalan yang lurus.

Allah Muslim juga berwenang untuk menyesatkan manusia/siapa saja yg dikehendakiNya untuk disesatkan dalam QS 4:88 (Al Quran surat An Nisâ’ [wanita-wanita] ayat 88)
فَمَا لَكُمْ فِى ٱلْمُنَـٰفِقِينَ فِئَتَيْنِ وَٱللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوٓا۟ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَهْدُوا۟ مَنْ أَضَلَّ ٱللَّهُ ۖ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ سَبِيلًۭا [٤:٨٨]
 Terjemahan bebas: Maka ada apa dengan kalian dalam menghadapi orang-orang yang bermuka dua menjadi terbelah? Dan Allah membalikkan apa-apa yang mereka upayakan. Akankah kalian menginginkan untuk memberi petunjuk kepada yang Allah sesatkan? Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka dia tidak akan menemukan jalan.

ULASAN:

Pada QS 19:36 Al Quran menginformasikan seruan ‘Isa (as) kepada orang-orang yahudi bahwa Allah adalah rabb mereka juga. Jalan yang lurus adalah menghamba kepada Allah. Dia mengulang perkataan ini pada QS 5:31 dan QS 43:64. Karena seruan ini ditujukan kepada orang yahudi, tentunya sebagai pengikutnya, orang kristen sepatutnya menghamba kepada Allah saja sebagaimana ‘Isa (as). Sayangnya tidak demikian, malah redaksi perkataannya dirubah menjadi seperti yang tertera dalam Yohanes 14:6, yaitu: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Pada QS 4:88 Al Quran menanyakan kepada kaum muslimin kenapa berbeda sikap terhadap kaum munafikin? Bukankah usaha-usaha mereka selama ini untuk menghancurkan Islam telah Allah balas? Kenapa pula sebagian dari muslimin mau begitu susah payah untuk memberi petunjuk kepada mereka agar kembali kepada Islam? Lupakah kalian bahwa bagi mereka yang tersesat itu tidak tidak ada jalan lain, selain kembali ke jalan yang lurus dengan kemauannya sendiri?

Perhatikan QS 20:123 (Al Quran surat Thâhâ [huruf thâ dan huruf hâ] ayat 123)
قَالَ ٱهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًۢا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۭ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًۭى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ [٢٠:١٢٣]
Terjemahan bebas: (Allah berkata) “Turunlah kalian berdua dari sana! Sebagian dari kalian adalah musuh bagi sebagian lainnya. Kemudian akan datang kepada kalian petunjuk dariKu. Dan barangsiapa mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan tersesat dan dia tidak akan terjerumus.”

Perhatikan juga bagian tengah QS 16:36
فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَـٰلَةُ 
Terjemahan bebas: Kemudian dari mereka ada yang Allah beri petunjuk dan dari mereka ada yang menetapkan atas dirinya kesesatan.

QS 20:123 Menginformasikan ketika Adam dan Hawa tiba di bumi. Bersama mereka, diturunkan juga petunjuk dari Allah untuk anak keturunan mereka. Jalan atau petunjuk sudah Allah sediakan, maka barangsiapa yang mengikuti jalan atau petunjuk itu adalah orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Orang-orang yang disesatkan oleh Allah adalah orang-orang yang menolak mendapat petunjuk dari Allah atau tidak mau mengikuti petunjuk atau jalan yang sudah Allah sediakan. Mereka sendiri yang menetapkan dirinya untuk tersesat. Maka bagi mereka tidak ada jalan lain yang lebih baik bagi mereka, selain dengan sukarela kembali ke jalan yang lurus yang telah Allah sediakan. Jika mereka masih tetap tidak mau kembali, jangan salahkan Allah karena Allah tidak akan menunjukkan jalan lain yang lebih baik daripada jalanNya yang lurus. Silakan saja menyesatkan diri.

Saturday, July 18, 2015

Allah Penipu Daya?



23. Salah satu dari 99 Nama dari Allah Muslim adalah MahaBenar
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim menjuluki diriNya sebagai “Sebesar-besar Penipu Daya / Penipu Ulung Penipu yg Hebat” (Qs.3:54).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 113 pertentangan.


QS 3:54 (Al Quran surat Ali ‘Imrân [keluarga Amram] ayat 54)
وَمَكَرُوا۟ وَمَكَرَ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَـٰكِرِينَ [٣:٥٤]
Terjemahan bebas: Dan mereka membuat rencana dan Allah (juga) membuat rencana. Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.

ULASAN:
Memang betul salah satu dari 99 nama Allah yang baik adalah Al Haqq (ٱلْحَقّ). Makna kata ini bukan saja berarti maha benar tetapi juga: kebenaran absolut, kenyataan absolut, yang mempunyai keadilan absolut, yang mempunyai hak absolut, dll. Perhatikan QS 22:6 (Al Quran surat Al Hajj [berhaji] ayat 6)

ذَ‌ٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّهُۥ يُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ [٢٢:٦]
Terjemahan bebas: Begitulah, karena Allah adalah kenyataan absolut (Al Haqq). Dan Sesungguhnya Dia menghidupkan yang mati dan sesungguhnya Dia atas segala hal berkuasa.

Segala seusatu yang berasal dari Allah adalah kenyataan atau kebenaran absolut. Penciptaan alam semesta dan manusia adalah kenyataan absolut.  Sedangkan apa yang dipersepsi oleh manusia adalah kenyataan atau kebenaran relatif, sesuai dengan pengetahuan yang Allah berikan kepada manusia. Jadi yang dimaksud dengan maha benar di sini adalah bukanlah tentang jujur atau menipu, melainkan tentang mutlak atau nisbi. Bisa juga tentang keyakinan dan keraguan.

Selanjutnya kita lihat hubungan haqq dengan apa yang dimaksud dengan tipuan. Perhatikan QS 35:5-6 (Al Quran surat Al Fâthir [pencipta] ayat 5-6)
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّۭ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلْغَرُورُ [٣٥:٥]إِنَّ ٱلشَّيْطَـٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّۭ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُوا۟ حِزْبَهُۥ لِيَكُونُوا۟ مِنْ أَصْحَـٰبِ ٱلسَّعِيرِ [٣٥:٦]
Terjemahan bebas: Ayat 5: Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah suatu kenyataan absolut (haqq). Janganlah kalian tertipu oleh kehidupan dunia dan janganlah kalian tertipu oleh sang penipu tentang Allah. Ayat 6: Sesungguhnya setan bagi kalian adalah musuh, maka perlakukanlah sebagaimana layaknya musuh. Sesungguhnya dia hanyalah menjanjikan kepada pengikut-pengikutnya agar menjadi penghuni api neraka.

Dengan demikian maka jelaslah apa yang dimaksud dengan tipuan atau penipu, yaitu menjanjikan sesuatu yang tidak pernah sesuai dengan kenyataan absolut. Setan menjanjikan seolah-olah manusia akan selamanya berada di dunia atau dunia adalah sebagai tujuan hidup, dan setan juga mengatakan bahwa Allah itu tidak ada, misalnya bagi ateis, sehingga tidak perlu lagi memikirkan tentang kehidupan akhirat yang merupakan kenyataan absolut yang dijanjikan Allah bahwa barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk akan masuk neraka.

Pada QS 3:54 Al Quran menginformasikan tentang rencana kaum Saduki atau Farisi untuk mengakhiri ‘Isa (as). Allah juga mempunyai rencana untuk menyelamatkan ‘Isa (as). Kemudian rencana mereka berantakan.  Kata yang digunakan adalah makara (مكر) yang berarti membuat rencana, menghukum penipu atau berkomplot. Karena membicarakan ‘Isa (as) maka Allah muslim adalah Allah kristen juga. Makar juga bisa berarti kudeta. Kata makar dalam ayat ini diulang tiga kali dan tidak ada yang aneh. Kata ini adalah kata netral, boleh saja diterjemahkan sebagai tipu daya, yaitu suatu cara dengan menggunakan kepandaian tertentu untuk mencapai suatu tujuan buruk atau tujuan baik. Dengan demikian kata haqq tidak bertentangan dengan kata makar.

Sunday, July 5, 2015

Allah memerintahkan perbuatan keji?



22. Apakah Allah Muslim memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji? Tidak! (Qs.7:28, 16:90).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim memang memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji (Qs.17:16, Qs.5:33, Qs.8:12, Qs.8:17).
Sampai disini sudah ada 8 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 112 pertentangan.


Allah tidak memerintahkan kejahatan dalam QS 7:28 (Al Quran surat Al A’râf [tempat yang ditinggikan] ayat 28)
وَإِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةًۭ قَالُوا۟ وَجَدْنَا عَلَيْهَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ [٧:٢٨]
Terjemahan bebas: Dan ketika mereka melakukan perbuatan tidak senonoh, mereka berkata: “Dan kami temukan bapak-bapak kami melakukan perbuatan itu dan Allah menyuruh kami berbuat demikian.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyuruh perbuatan-perbuatan tidak senonoh.” Apakah mereka mengatakan atas Allah apa-apa yang tidak mereka ketahui?

Allah tidak memerintahkan kejahatan dalam QS 16:90 (Al Quran surat Al Nahl [lebah] ayat 90)
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَـٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ [١٦:٩٠]
Terjemahan bebas: Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk keseimbangan dan kesopanan, dan menafkahi kaum kerabat dan menahan diri dari kebejadan dan ketercelaan dan mengumbar nafsu. Dia mengancam kalian. Mudah-mudahan kalian mengingat (Allah).

Allah Muslim memang memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji dalam QS 17:16 (Al Quran surat Al Isrâ’ [perjalanan malam] ayat 16)
وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَـٰهَا تَدْمِيرًۭا [١٧:١٦]
Terjemahan bebas: Dan ketika Kami bermaksud untuk menghancurkan sebuah komunitas, Kami perintahkan orang-orang yang bergelimang kemewahan (agar bertobat), kemudian mereka melawan di dalamnya. Maka ditetapkanlah atasnya keputusan. Kemudian Kami luluh lantakkannya.

Allah Muslim memang memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji dalam QS 5:33 (Al Quran surat Al Mâidah [meja perjamuan] ayat 33)
إِنَّمَا جَزَ‌ٰٓؤُا۟ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسْعَوْنَ فِى ٱلْأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓا۟ أَوْ يُصَلَّبُوٓا۟ أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلَـٰفٍ أَوْ يُنفَوْا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ ۚ ذَ‌ٰلِكَ لَهُمْ خِزْىٌۭ فِى ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ [٥:٣٣]
Terjemahan bebas: Mereka yang melawan Allah dan utusanNya dan membuat kerusakan di bumi, hukumannya hanyalah dengan cara dibunuhi, atau disalibi, atau dipotongi tangan dan kakinya bersilangan, atau diusir dari bumi. Itulah bagi mereka kehilangan muka di dunia dan bagi mereka di akhirat siksaan yang berat.

Allah Muslim memang memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji dalam QS 8:12 (Al Quran surat Al Anfâl [rampasan perang] ayat 12)
إِذْ يُوحِى رَبُّكَ إِلَى ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ أَنِّى مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۚ سَأُلْقِى فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلرُّعْبَ فَٱضْرِبُوا۟ فَوْقَ ٱلْأَعْنَاقِ وَٱضْرِبُوا۟ مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۢ [٨:١٢]
Terjemahan bebas: (Ingatlah) Ketika Rabb kamu mewahyukan kepada malaikat: “Aku bersama kalian. Maka teguhkan mereka yang beriman. Akan Aku lemparkan ke dalam hati-hati mereka yang menutup kebenaran dengan ketakutan. Kemudian pukullah leher-leher mereka dan pukullah setiap ujung-ujung jari mereka.”

Allah Muslim memang memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji dalam QS 8:17 (Al Quran surat Al Anfâl [rampasan perang] ayat 17)

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ [٨:١٧]
Terjemahan bebas: Maka bukanlah kalian yang membunuh mereka tetapi Allah yang membunuh mereka, dan bukanlah kalian yang melakukan ketika melempar tetapi Allah yang melempar dan agar Dia menguji orang-orang yang beriman dengan ujian yang baik. Sesungguhnya Allah mendengar mengetahui.

ULASAN

Rupanya yang menyusun ini tidak benar-benar mengerti apa yang dituduhkan. Bisa jadi membaca hanya sekilas, atau dari penterjemahan yang tidak tepat. Di samping itu, tidak dapat mendefinisikan tuduhannya sehingga tidak dapat membedakan mana kejahatan, hukuman keras, perbuatan keji atau tindakan keras dalam perang. Dengan kekacauan seperti ini, ayat-ayat ini jelas kelihatan bertentangan karena masalah yang dibicarakan berbeda-beda.

Pada QS 7:28 dan QS 16:90 Al Quran membicarakan masalah hubungan antara manusia dalam komunitas dan keluarga. Yang membuat bingung barangkali adalah kata fahisyah (فحشة) yang berasal dari kata fahusya (فحش) yang berarti berlebih-lebihan, tidak beralasan, tidak sopan, memalukan dan mencemarkan nama baik. Dengan demikian Fahisyah berarti perbuatan berdosa, perbuatan tidak senonoh, perbuatan tidak bermoral, perbuatan asusila, perselingkuhan, dll. yang berhubungan dengan perilaku seksual yang menyimpang. Barangkali agar memudahkan pembacanya, penterjemah seringkali memaknai kata ini dengan “perbuatan keji”. Lebih lanjut lagi yang membaca akan memaknainya sebagai perbuatan biadab yang di luar batas perikemanusiaan yang berhubungan dengan pertumpahan darah. Seorang pembaca terjemahan ayat-ayat yang menggunakan kata fahisyah, yang diterjemahkan sebagai perbuatan keji,  akan dibingungkan dengan pokok masalah yang dibicarakan. Dalam asosiasinya, perbuatan keji berhubungan dengan pertumpahan darah. Padahal ini tidak “nyambung” dengan perempuan, zinah, perselingkuhan dll. yang dibahas.

Pada QS 17:16 Al Quran menginformasikan bahwa sebelum menghukum suatu komunitas, Allah terlebih dahulu memberi peringatan kepada mereka. Karena peringatan tidak dipatuhi maka komunitas itu dihancurkan agar menjadi pelajaran bagi komunitas-komunitas mendatang agar tidak mengulangi kesalahan serupa. Apakah ini menyuruh perbuatan keji? Sudah banyak kota, desa, atau pemukiman yang dihancurkan seperti ini yang diceritakan di kitab suci. Ada yang benar hancur dan ada yang dibangun kembali. Sodom dan Gomorrah, Jerusalem, kaum Âd, kaum Tsamûd, Midian, dll. Mungkin karena Bibel menceritakan secara naratif yang berkepanjangan, orang menjadi lupa kenapa mereka dihancurkan, lihat Kejadian 19. Sedangkan dalam Al Quran cerita tentang mereka hanya singkat saja sehingga orang tetap ingat apa kesalahan mereka.

Pada QS 5:33 Al Quran menginformasikan hukuman apa bagi yang berperang melawan Allah dan utusan-utusanNya. Keji? Biadab? Mungkin demikian bagi pembaca zaman sekarang. Hukuman berat memang perlu dijatuhkan bagi pelanggaran berat. Tahukah anda bahwa hukuman yang seperti ini adalah hukuman yang pernah Allah sampaikan kepada Musa (as) sebelumnya. Contohnya ada pada Bilangan pasal 31. Al Quran tidak langsung menerapkan hukuman sekeras ini dalam pelaksanaannya. Mari ikuti kelanjutannya di QS 5:34.
إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ مِن قَبْلِ أَن تَقْدِرُوا۟ عَلَيْهِمْ ۖ فَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ [٥:٣٤]
Terjemahan bebas: Kecuali jika mereka itu bertobat sebelum jatuh ke tangan kalian. Ketahuilah bahwa Allah pemberi ampun penyayang.

Dalam setiap pelanggaran, dosa atau kesalahan, Al Quran di awal selalu menegaskan hukuman yang berat atau keras. Hal ini diperlukan agar orang hati-hati dan berpikir dulu sebelum bertindak sehingga tidak mendapat konsekuensi hukuman. Setelah dirinci bagaimana hukumannya, selalu diikuti dengan pengecualiannya dan pengampunan bagi yang layak diampuni. Diakhiri dengan kata-kata bahwa Allah itu pengampun dan penyayang. Hal ini jarang diperhatikan. Orang hanya ingin sensasi saja dengan mengatakan bahwa Islam itu biadab, barbar, haus darah sehingga fokusnya hanya pada bagian awal saja.

Pada QS 8:12 dan QS 8:17 Al Quran menginformasikan tentang suasana dalam peperangan. Tidak ada yang keji atau biadab dalam hal ini. Membunuh atau terbunuh adalah konsekuensi dari ikut berperang.  Yang dikemukakan dalam ayat-ayat ini adalah hal yang wajar dalam berperang dan tidak ada anjuran untuk curang atau melakukan strategi di luar batas perikemanusiaan. Seorang yang beriman harus tetap bersemangat bahwa dia ditolong oleh Allah dan malaikat. Walaupun dia membenci peperangan, tetapi karena dia ikut perang di jalan Allah, maka dia percaya bahwa yang menggerakkan tangannya adalah Allah dan yang membunuh musuh bukan dia, melainkan Allah sehingga tidak ada keraguan dalam bertindak. Agar segera menyelesaikan peperangan dia tidak boleh lembek selama perang sampai musuh kalah atau menyerah, atau dia sendiri mati syahid.

Saturday, July 4, 2015

Siapa sumber malapetaka?



21. Siapakah sumber malapetaka? Sumber malapetaka adalah Setan di “dalam” diri manusia atau gangguan (Qs..38:41).
Hal ini bertentangan dengan:
Sumber malapetaka adalah kita sendiri (Qs.4:79).
Sumber malapetaka adalah Allah sendiri (Qs.4:78).
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan, jadi total sudah ada 104 pertentangan.


Sumber malapetaka adalah Setan di “dalam” diri manusia atau gangguan dalam QS 38:41 (Al Quran surat Shâd [huruf shâd] ayat 41)
وَٱذْكُرْ عَبْدَنَآ أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلشَّيْطَـٰنُ بِنُصْبٍۢ وَعَذَابٍ [٣٨:٤١]
Terjemahan bebas: Dan ingatlah akan hamba Kami, Job, ketika di menyeru Rabbnya: “Bahwa setan menyentuhku dengan ketidakberdayaan dan penderitaan.”

Sumber malapetaka adalah kita sendiri dalam QS 4:79 (Al Quran surat An Nisâ’ [wanita-wanita] ayat 79)
مَّآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍۢ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍۢ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَـٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًۭا ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًۭا [٤:٧٩]
Terjemahan bebas: Apa-apa yang menimpamu itu suatu kebaikan, maka itu dari Allah. Dan apa-apa yang menimpamu itu suatu keburukan, maka itu dari dirimu. Dan Kami mengirimmu bagi manusia sebagai seorang utusan. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

Sumber malapetaka adalah Allah sendiri dalam QS 4:78 (Al Quran surat An Nisâ’ [wanita-wanita] ayat 78)
أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍۢ مُّشَيَّدَةٍۢ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌۭ يَقُولُوا۟ هَـٰذِهِۦ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۭ يَقُولُوا۟ هَـٰذِهِۦ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّۭ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ فَمَالِ هَـٰٓؤُلَآءِ ٱلْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًۭا [٤:٧٨]
Terjemahan bebas: Di manapun kalian berada, maut menghampiri kalian, meskipun kalian berada di benteng yang diperkuat. Dan jika kebaikan menimpa mereka, mereka akan berkata: “Hal ini dari sisi Allah.” Dan jika keburukan menimpa mereka, mereka akan berkata: “Hal ini dari sisi kamu.” Katakanlah: “Segalah sesuatu dari sisi Allah. Maka berpalinglah dari suatu kaum yang mereka itu  sukar sekali diberi pengertian dengan kata-kata.”

ULASAN:

Pada QS 38:41 Al Quran menginformasikan perkataan Job bahwa dia diganggu setan dalam ketidakberdayaan dan penderitaan yang dialaminya.

Pada QS 4:79 Al Quran menginformasikan bahwa jika suatu kebaikan datang kepada manusia, maka itu datang dari (kasih sayang) Allah. Dan jika suatu keburukan datang kepada manusia, maka itu adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri. Contohnya: penggundulan hutan. Jika dibiarkan, makan akibatnya adalah malapetaka banjir.

Pada QS 4:78 Al Quran menginformasikan bahwa kematian adalah ketetapan Allah yang tidak bisa pandang bulu di manapun berada. Selanjutnya, jika suatu kebaikan datang kepada orang-orang degil, maka mereka akan berkata bahwa hal itu datang dari Allah. Dan jika suatu keburukan datang kepada orang-orang degil, maka mereka akan berkata bahwa hal itu datang dari Muhammad SAW.

Ayat-ayat ini tidak membicarakan tentang sumber malapetaka. Mari kita lihat apa yang disebut sebagai malapetaka atau bencana. Secara umum orang arab mengenal istilah ini sebagai “mushîbah” (مصيبة) yang berasal dari kata kata kerja “shâba” (صاب) yang berarti mengguyur, mengenai sasaran atau datang turun. Dengan menambahkan imbuhan “a” maka kata ini berubah menjadi kata kerja lain “ashâba” (أصاب) yang berarti menimpa, mengirim turun, menyebabkan celaka atau hukuman. Kata “ashâba”ini yang digunakan dalam ayat-ayat ini. Mushîbah adalah kata benda/sifat aktif dari kata ini yang berarti yang menimpa, yang diturunkan, hukuman atau bencana. Berarti kata ini sebenarnya mempunyai konteks yang netral dan hanya manusia saja yang mempersepsinya sebagai suatu keburukan. Mari kita lihat definisi atau keterangan tentang kata-kata ini dalam Al Quran pada ayat QS 64:11 (Al Quran surat At Taghâbûn [hari untung dan rugi] ayat 11):
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ [٦٤:١١]
Terjemahan bebas: Tidak ada mushîbah yang menimpa kecuali dengan ijin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, Dia memberi petunjuk kepada hatinya. Allah mengetahui segala sesuatu.

Segala sesuatu terjadi karena ijin Allah. Allah menimpakan sesuatu kepada manusia adalah untuk menguji keimanan manusia, atau sebagai alat introspeksi atas hasil dari perbuatan manusia itu sendiri. Terjadinya kadang bisa diprediksi manusia dan seringkali di luar dugaan manusia.

Suatu peristiwa dapat dipersepsi sebagai suatu kebaikan oleh manusia. Selanjutnya bagaimana sikap manusia terhadap kebaikan itu. Bagi orang yang menutup (kebenaran), kebaikan itu adalah hak bagi dirinya karena hal itu terjadi karena hasil dari usahanya atau paling tidak sebagai kejutan yang tidak disangka-sangka, selanjutnya dia akan larut dalam kegembiraan dan melupakan hal yang lain. Bagi orang yang beriman, kebaikan itu adalah bentuk dari kasih sayang Allah terhadap dirinya dan bisa juga suatu ujian, selanjutnya dia bersyukur kepada Allah dan selalu waspada. Bisa jadi kebaikan itu, jika tidak disikapi dengan benar, akan berubah menjadi keburukan. Contohnya kekayaan, jika orang terlalu larut dalam kegembiraan bisa jadi kekayaan itu menjerumuskan orang kepada perbuatan tidak bermoral yang menimbulkan bencana.

Demikian juga suatu peristiwa dapat dipersepsi sebagai suatu keburukan oleh manusia. Bagi yang menutup (kebenaran), keburukan itu ditanggapi dengan sikap negatif, yaitu akibat kesalahan orang lain, ketidak adilan Tuhan, atau kebetulan saja mendapat nasib buruk. Sangat jarang yang menganggap hal itu akibat perbuatan dirinya yang salah. Kadang juga mereka salah dalam menyikapinya sehingga makin tenggelam dalam keburukan yang lebih parah. Bagi orang yang beriman, keburukan itu bisa jadi merupakan teguran dari Allah atas perbuatannya yang salah, dan bisa juga sebagai ujian untuk meningkatkan keimanan baginya. Apapun itu, bagi orang beriman tentu ditanggapi dengan sikap positif karena ada pelajaran di balik keburukan sehingga dia sabar menerima keburukan itu dan terus berusaha memperbaiki diri. Bisa jadi keburukan itu adalah kebaikan yang terselubung. Misalnya, seseorang mengalami kecelakaan dalam perjalan menuju bandara. Ternyata kemudian, pesawat yang akan ditumpanginya jatuh sehingga tidak ada penumpang yang selamat. Dengan demikian, dia diberi kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik.

Pada umumnya orang memandang kematian adalah suatu hal yang buruk atau suatu bencana. Padahal, kematian adalah ketetapan Allah, yang tidak dapat dipercepat atau ditunda, sebagai salah satu fasa perjalanan manusia. Hal ini bisa merupakan karunia kebaikan dan bisa juga merupakan bencana keburukan. Beruntung bagi yang mati dalam keadaan beriman, walaupun mati dengan cara yang mengenaskan (dalam pandangan manusia lain), karena dia telah melewati suatu proses yang akan mengantarnya menuju tempat yang dirindukannya. Sebaliknya, merugilah bagi yang mati dalam keadaan kafir, walaupun mati dengan tenang di pembaringan, karena dia masih ingin hidup di dunia tetapi dipaksa menuju tempat yang.tidak mau dia datangi. 

Lantas di mana peran setan? Dia bukanlah sumber malapetaka, melainkan penggoda yang mengakibatkan orang lupa kepada Allah melalui kebaikan dan keburukan tersebut. Jika seorang manusia mendapatkan kebaikan, maka setan akan menggodanya untuk terus menikmati kebaikan tersebut seolah-olah orang itu akan hidup selama-lamanya di dunia sehingga orang lupa bahwa dia akan mati dan menghadapi pengadilan di akhirat. Jika seorang manusia mendapatkan keburukan, maka setan akan menggodanya untuk mengingatkan manusia akan ketidak adilan Allah sehingga makin larut dalam kesedihan atau menjerumuskan orang itu melakukan perbuatan yang salah, misalnya merampok. Pada QS 38:41 Job merasakan gangguan setan selama ketidakberdaayaan penderitaannya yang berasal dari Allah untuk mengujinya dalam puluhan tahun, akan tetapi dia tetap ingat Allah. Inilah sebabnya dia ditampilkan dalam Al Quran sebagai teladan bagi manusia lainnya agar tidak tergoda setan sampai datangnya ketetapan Allah yang lain.

Friday, July 3, 2015

Di manakah Allah dan 'arsy?



20. Dimanakah Allah Muslim dan tahtaNya? Allah Muslim lebih dekat daripada urat leher manusia (Qs.50:16).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim itu berada di tahtaNya/arasyNya (Qs.57:4)…tahtaNya dimana?!
Allah Muslim itu tahtaNya berada di atas air (Qs.11:7).
Allah Muslim itu tahtaNya berada antara 1.000 hingga 50.000 tahun untuk dijangkau (Qs.32:5, 70:4).
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 101 pertentangan.


Lebih dekat daripada urat leher manusia dalam QS 50:16 (Al Quran surat Qâf [huruf qâf] ayat 16)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ [٥٠:١٦]
Terjemahan bebas: Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dan Kami mengetahui apa-apa yang dirinya bisikkan (dalam hatinya) dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya.

Di tahtaNya/arasyNya dalam QS 57:4 (Al Quran surat Al Hadîd [besi] ayat 4)
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍۢ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ [٥٧:٤]
Terjemahan bebas: Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian kokoh atas kekuasaanNya. Dia mengetahui apa-apa yang masuk ke bumi dan apa-apa yang keluar darinya dan apa-apa yang turun dari langit dan apa-apa yang naik di dalamnya. Dia bersama kalian di manapun kalian berada. Dan Allah melihat apa-apa yang kerjakan.

TahtaNya di atas air dalam QS 11:7 (Al Quran surat Hûd [nama nabi bukan anak Israel] ayat 7)
وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍۢ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۗ وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِنۢ بَعْدِ ٱلْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِنْ هَـٰذَآ إِلَّا سِحْرٌۭ مُّبِينٌۭ [١١:٧]
 Terjemahan bebas: Dan Dia itu yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan kekuasanNya di atas air agar dapat menguji kalian siapa saja dari kalian yang (mempunyai) perbuatan terbaik. Dan jika kamu katakan: “Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang dibangkitkan sesudah kematian.” Mereka yang menutup (kebenaran) akan berkata: “Hal ini hanyalah sihir yang nyata.”

TahtaNya berada 1.000 tahun untuk dijangkau dalam QS.32:5( Al Quran surat As Sajdah [bersujud] ayat 5)
يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍۢ مِّمَّا تَعُدُّونَ [٣٢:٥]
Terjemahan bebas: Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian naik kepadaNya dalam satu hari yang ukurannya seribu tahun dari apa-apa yang kalian hitung.

TahtaNya berada 50.000 tahun untuk dijangkau dalam QS 70:4 (Al Quran surat Al Ma’arij [tangga naik] ayat  4).
تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍۢ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍۢ [٧٠:٤]
Terjemahan bebas: Malaikat dan ruh naik kepadaNya dalam satu hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun.

ULASAN

Kadang fikiran manusia selalu ingin menyamakan yang lain dengan keadaan dirinya. Kadang juga membaca sesuatu secara sekilas saja sehingga segera mengambil kesimpulan berdasarkan atas prsangka atau asosiasi yang ada di fikirannya, sebelum merenungkannya.

Allah pemilik segalanya, sudah ada sebelum tempat dan waktu. Allah adalah yang menciptakan makhluk. Dengan demikian Allah tidak akan sama dengan makhluk. Allah mengetahui seluruh peri keadaan makhluk, sedangkan makhluk tidak mengetahui Allah, kecuali sedikit sekali sesuai yang diajarkan Allah. Kita tidak tahu bagaimana keberadaan Allah, seperti apa manifestasiNya. Yang dapat diketahui oleh makhluk adalah tanda-tandaNya saja, bukan diriNya.

Pada QS 50:16 Al Quran menginformasikan bahwa Allah dekat sekali dengan manusia sehingga sangat mengetahui sekecil apapun yang terlintas dalam hati manusia, tidak ada satupun yang terlewatkan. Apa itu suatu pemikiran atau niat baik maupun pemikiran atau niat sesat, sengaja atau tidak sengaja. Maka dari itu, manusia harus berhati-hati terhadap apa yang ada dalam pikiran maupun hati.

Pada QS 57:4 Al Quran menginformasikan bahwa setelah Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, Allah “bertahta di atas singgasana”. Inilah pikiran manusia yang selalu menyamakan keadaan sesuatu yang lain dengan dirinya. Mari kita perhatikan kata-kata yang digunakan. Kata “istawa” (ٱستوى) adalah kata kerja yang terbentuk dari kata kerja lain yaitu “sawiya” (سوى) yang berarti berharga atau setara dengan. Dengan imbuhan “i-ta” maka kata itu berubah artinya menjadi kokoh, mengokohkan diri, menaiki sesuatu dll. sehingga dapat diartikan sebagai bertahta. Adapun kata “’arsy” (عرش) berasal dari kata kerja “arasya” (عرش) yang berarti membangun, mengkonstruksikan, membuat atap, meninggikan struktur dll. sehingga kata bendanya  dapat diartikan sebagai singgasana, paviliun, atap, kekuasan, kerajaan dll. Orang dapat saja menerjemahkan kata-kata tersebut sesuai dengan yang dipahaminya atau dengan mengambil salah satu maknanya saja agar mudah dicerna pembacanya. Dengan terjemahan “bertahta di atas singgasana” akan membawa pembacanya mengasosiasikan bahwa yang bertahta itu adalah seorang raja manusia seperti dirinya.

Saya menerjemahkannya dengan kokoh atas kekuasaanNya adalah sesuai dengan apa-apa yang Dia kerjakan terus menerus tanpa meninggalkan sesuatupun ketika “bertahta di atas singgasana”. Pada semua ayat di Al Quran, setelah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, Dia mengerjakan berbagai hal. Lihat QS 7:54, QS 10:3 dan QS 57:4 ini. Berbeda dengan kepercayaan yahudi dan kristen yang menyebutkan bahwa Tuhan, setelah menciptakan, beristirahat di hari ke tujuh. Sungguh akan kacau seluruh alam semesta jika penciptanya meninggalkan sebagian dari pekerjaan, walaupun sesaat atau satu pekerjaan saja. Jadi Allah tidak dapat disamakan dengan makhluk yang perlu beristirahat atau duduk ongkang-ongkang kaki di singgasana. Perhatikan QS 50:38 (Al Quran surat Qâf [huruf qâf] ayat 38):
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍۢ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍۢ [٥٠:٣٨]
Terjemahan bebas: Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. Tidak satupun kekelahan menyentuh Kami.

Pada QS 11:7 Al Quran menginformasikan bahwa tahtaNya di atas air. Dalam hal ini saya tidak mampu untuk mengungkapkannya. Saya menganggap bahwa ini adalah ayat atau tanda mutasyabihat, yaitu yang mengandung makna tersembunyi yang hanya diketahui Allah semata atau orang-orang yang telah Dia beri pengetahuan tentang itu. Yang ada pada saya hanya dugaan saja yang jika saya ungkapkan akan mengecoh pembaca dari maksud yang sebenarnya. Jika ingin menemukan jawaban sesungguhnya, silahkan dalami terus Al Quran pada bagian-bagian lainnya, gunakan juga hati nurani selain rasio. Mudah-mudahan menemukan kebenaran sejati. Jika sudah, tolong informasikan kepada saya. Bagi saya sekarang ini lebih baik mendalami dulu Al Quran dengan ayat-ayat muhkamat, yaitu yang artinya sudah jelas dan yang menjadi pokok utama dalam Al Quran. Ayat ini saya imani sebagai petunjuk yang benar dari Allah.

Pada QS.32:5 Al Quran menginformasikan bahwa Allah mengatur urusan dari langit ke bumi dan urusan itu naik kepadaNya. Pada QS 70:4 Al Quran menginformasikan bahwa Malaikat dan ruh naik kepadaNya. Pada kedua ayat ini tidak diterangkan di mana keberadaan Allah. Selain itu, apakah urusan itu berasal dari ‘arsy, ataukah naik ke ‘arsy, ataukan malaikat dan ruh naik ke ‘arsy. tidak diinformasikan. Apalagi, tidak ada sama sekali informasi tentang manusia dapat menjangkau tahtaNya dalam 1.000 atau 50.000 tahun. Ini adalah contoh pemikiran yang mengambil kesimpulan berdasarkan prasangka saja tanpa disertai informasi yang lengkap.

Thursday, July 2, 2015

Bolehkah menjadi perantara/orang yang bersyafaat?



19. Bolehkah menjadi perantara/orang yg bersyafaat atau tidak pada Hari Penghakiman/ Akhir Zaman? Boleh (Qs.20:109, 34:23, 43:86, 53:26).
Hal ini bertentangan dengan:
Menjadi perantara/orang yg bersyafaat pada Hari Penghakiman/ Akhir Zaman adalah tidak boleh (Qs.2:122-123, 2:254, 6:51, 82:18-19).
Sampai disini sudah ada 16 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 97 pertentangan.




Boleh menjadi perantara dalam QS 20:109 (Al Quran surat Thâhâ [huruf thâ’dan hâ’] ayat 109.
يَوْمَئِذٍۢ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَرَضِىَ لَهُۥ قَوْلًۭا [٢٠:١٠٩]  



Terjemahan bebas: Pada hari itu syafâ’ah tidak berguna kecuali siapa Yang Penyayang memberi ijin kepadanya dan Dia rela dengan perkataannya.

Boleh menjadi perantara dalam QS 34:23 (Al Quran surat Saba [negeri Saba] ayat 23)
وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ [٣٤:٢٣]
Terjemahan bebas: Dan syafâ’ah tidak berguna di sisiNya kecuali bagi siapa yang diijinkan sampai ketika ketakutan diangkat dari hati-hati mereka. Mereka berkata: “Apa (yang diperintahkan) Rabb kalian?” Mereka berkata: “Hal yang Benar. Dan hanya Dia yang tinggi yang besar.”

Boleh menjadi perantara dalam QS 43:86 (Al Quran surat Az Zukhrûf [perhiasan] ayat 86)
وَلَا يَمْلِكُ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ ٱلشَّفَـٰعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِٱلْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ [٤٣:٨٦]
Terjemahan bebas: Dan tidak berlaku bagi mereka yang memohon kepada selain Dia syafâ’ah kecuali yang bersaksi dengan kebenaran dan mereka mengetahuinya.

Boleh menjadi perantara dalam QS 53:26 (Al Quran surat An Najm [bintang] ayat 26)
وَكَم مِّن مَّلَكٍۢ فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ لَا تُغْنِى شَفَـٰعَتُهُمْ شَيْـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرْضَىٰٓ [٥٣:٢٦]
Terjemahan bebas: Dan berapapun malaikat yang ada di langit tidak berguna syafâ’ah mereka kecuali siapa yang sesudahnya diijinkan Allah bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia rela.

Tidak boleh menjadi perantara dalam QS 2:122-123 (Al Quran surat Al Baqarah [sapi betina] ayat 122-123)
يَـٰبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّى فَضَّلْتُكُمْ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ [٢:١٢٢]وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًۭا لَّا تَجْزِى نَفْسٌ عَن نَّفْسٍۢ شَيْـًۭٔا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌۭ وَلَا تَنفَعُهَا شَفَـٰعَةٌۭ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ [٢:١٢٣]
 Terjemahan bebas: Ayat 122: Wahai anak-anak Israel, ingatlah karuniaKu yang telah Aku anugerahkan atas kalian dan ketika Aku memilih kalian atas alam semesta. Ayat 123: Dan takutlah pada suatu hari yang seseorang tidak dapat memikul dosa yang lainnya, dan tidak diterima kompensasi darinya, dan tidak berguna baginya syafâ’ah. Dan mereka tidak ditolong.

 Tidak boleh menjadi perantara dalam QS 2:254 (Al Quran surat Al Baqarah [sapi betina] ayat 254)
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَـٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌۭ لَّا بَيْعٌۭ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌۭ وَلَا شَفَـٰعَةٌۭ ۗ وَٱلْكَـٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ [٢:٢٥٤]
Terjemahan bebas: Wahai mereka yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) dari apa-apa yang kami anugerahkan pada kalian sebelum datangnya hari yang tidak ada transaksi di dalamnya, dan tidak juga perkawanan dan tidak juga syafâ’ah. Dan orang-orang yang menutup (kebenaran) mereka adalah orang-orang yang berbuat aniaya.

Tidak boleh menjadi perantara dalam QS 6:51 (Al Quran surat Al An’âm [hewan ternak] ayat 51)
وَأَنذِرْ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّهِمْ ۙ لَيْسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِىٌّۭ وَلَا شَفِيعٌۭ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ [٦:٥١]
Terjemahan bebas: Dan peringati mereka yang khawatir (pada hari) ketika mereka dikumpulkan kepada Rabb mereka, tidak ada bagi mereka selain Dia sebagai pelindung dan tidak juga pemberi syafâ’ah. Mudah-mudahan mereka takut (kepada Allah).

Tidak boleh menjadi perantara dalam QS 82:18-19 (Al Quran surat Al Infithâr [langit terbelah] ayat 18-19)
ثُمَّ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا يَوْمُ ٱلدِّينِ [٨٢:١٨]يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌۭ لِّنَفْسٍۢ شَيْـًۭٔا ۖ وَٱلْأَمْرُ يَوْمَئِذٍۢ لِّلَّهِ [٨٢:١٩]
Terjemahan bebas: Ayat 18: Kemudian, “Apa yang kamu ketahui tentang hari pengadilan?” Ayat 19: (yaitu) Hari tidak seorangpun memikul beban orang lain. Dan urusan pada hari itu milik Allah.

ULASAN

Semua ayat-ayat ini tidak membicarakan apakah seseorang boleh atau tidak boleh menjadi perantara/orang yang bersyafaat. Pada prinsipnya dalam Al Quran tidak akan ada syafaat pada hari pengadilan, kecuali yang diberi ijin oleh Allah.

Apakah itu syafaat? Kata ini diturunkan dari kata syafa’a (شفع) yang berarti menjadikan genap sesuatu yang ganjil, memasangkan, menyediakan sesuatu bagi yang sendirian, melindungi, menjadi perantara, mencampuri keputusan. Dalam hal ini seorang perantara atau orang yang bersyafaat adalah orang yang dapat mencampuri suatu keputusan yang sudah dibuat sehingga keputusan itu berubah, terutama dalam hal penghukuman. Jika seseorang sudah dinyatakan bersalah, kemudian datang orang lain memberi syafaat, maka dengan itu hukumannya dicabut.

Dalam agama-agama terdahulu seperti yahudi dan kristen banyak diangkat oleh penganutnya orang-orang yang dianggap suci atau malaikat tertentu sebagai pemberi syafaat. Bisa jadi orang yang diangkat tersebut tidak pernah menyatakan dirinya pemberi syafaat. Pengangkatan semacam ini mungkin ditentukan berdasarkan semacam konsensus di antara pemuka-pemuka agama dalam menentukan kriteria orang atau malaikat yang diangkat dan tata-cara penganut-penganutnya agar mendapat syafaat dari orang yang diangkat atau malaikat tersebut.

Al Quran menentang praktek semacam ini, perhatikan QS 7:53 (Al Quran surat Al A’râf [yang ditinggikan] ayat 53]
هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُۥ ۚ يَوْمَ يَأْتِى تَأْوِيلُهُۥ يَقُولُ ٱلَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبْلُ قَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلْحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَآءَ فَيَشْفَعُوا۟ لَنَآ أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ ۚ قَدْ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَفْتَرُونَ [٧:٥٣]

Terjemahan bebas: Apakah mereka (orang-orang kafir itu) hanya menunggu sampai makna dia (hari pengadilan) terungkap? Pada hari terungkapnya itu mereka yang mengabaikannya dahulu berkata: “Sungguh telah datang pada kami utusan-utusan Rabb kami dengan kebenaran (tetapi kami menyangkalnya). Maka apakah bagi kami ada orang-orang yang memberi syafâ’ah yang akan membebaskan kami ataukah kami dikembalikan lagi (ke dunia) sehingga dapat melakukan perbuatan yang tidak kami lakukan dulu?” Sesungguhnya mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah menyesatkan mereka apa-apa yang mereka buat-buat dulu.

Juga lihat QS 10:18 (Al Quran surat Yûnus [Jonah] ayat 18)
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ [١٠:١٨]
Terjemahan bebas: Dan mereka, yang menghamba kepada selain Allah yaitu yang tidak dapat mencelakai mereka dan tidak juga dapat memberi manfaat bagi mereka,  akan berkata: “Mereka inilah yang menjadi pemberi syafâah bagi kita di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kalian akan mengabarkan Allah tentang apa-apa yang Dia tidak ketahui di langit dan di bumi?” Maha suci Dia dan lebih tinggi dari apa-apa yang mereka persekutukan.

Dari semua ayat Al Quran tidak ada yang menyebutkan tentang adanya perantara atau orang yang bersyafaat pada hari pengadilan. Semua syafaat tidak berguna kecuali yang Allah berikan ijin. Sayangnya tidak ada informasi siapa atau apa yang diberikan ijin tersebut. Dengan ini Al Quran menginformasikan bahwa orang-orang beriman hanya bertanggungjawab terhadap amal perbuatannya sendiri, tidak dianjurkan mengharapkan syafaat orang lain dan tidak juga dapat memberikan syafaat bagi orang lain. Tidak ada namanya dosa warisan milyaran penganut harus ditanggung seorang diri oleh juru selamat.